PERTAMA KALI mendengar kata itu, saya berpikir seperti budaya
gotong royong yang dilakukan oleh para anggota masyarakat yang ada di desa-desa
di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Akan tetapi, ternyata perkiraan saya
itu salah. Tradisi Nganggung ini merupakan kegiatan silaturahmi
dalam rangka peringatan hari raya agama Islam atau menyambut tamu-tamu yang
dihormati masyarakat.
Dalam acara
tersebut, semua keluarga di suatu desa menyediakan makanan untuk dibawa ke
masjid atau balai pertemuan yang akan disantap bersama-sama. Makanan-makanan yang
dibawa biasanya ditempatkan dalam suatu wadah yang disebut Dulang, yang ditutup
dengan tudung saji sedemikian rupa. Makanan-makanan tersebut dibawa dengan cara
di‘anggung” yang artinya dipapah di bahu. Mungkin karena cara membawa inilah
yang membuat namanya menjadi ‘nganggung.’ Walaupun sekarang ini cara membawa
hidangan ini sudah beralih ke rantang. Akan tetapi, nama ‘Nganggung” masih
tetap digunakan orang sampai saat ini.
Budaya ini menurut saya sangatlah bagus dan perlu dilestarikan, karena tidak semua daerah di nusantara memiliki budaya seperti ini. Esensi dari budaya ini juga sangatlah menarik, karena bisa menciptakan kerukunan, kebersamaan dan sikap saling menghormati antaranggota masyarakat. Dengan makan bersama dengan aneka hidangan yang beragam jenis dan beraneka rasa bisa membuat suasana yang kondusif untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan lingkungan tempat tinggal mereka atau pun permasalahan yang timbul dalam masyarakat dengan suasana yang santai dan penuh kekeluargaan.
![]() |
| Terlihat sajian makanan dan minuman yang dibawa warga |
Budaya ini menurut saya sangatlah bagus dan perlu dilestarikan, karena tidak semua daerah di nusantara memiliki budaya seperti ini. Esensi dari budaya ini juga sangatlah menarik, karena bisa menciptakan kerukunan, kebersamaan dan sikap saling menghormati antaranggota masyarakat. Dengan makan bersama dengan aneka hidangan yang beragam jenis dan beraneka rasa bisa membuat suasana yang kondusif untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan lingkungan tempat tinggal mereka atau pun permasalahan yang timbul dalam masyarakat dengan suasana yang santai dan penuh kekeluargaan.
Kegiatan PNPM MPd. di Kabupaten Bangka Barat beberapa kali telah dapat ‘beritegrasi’ dengan budaya Nganggung ini. Hal itu menurut saya merupakan hal yang positif, karena dengan adanya kegiatan lokal yang juga merupakan salah satu kearifan lokal dan dapat bersinergi dengan kegiatan PNPM MPd membuktikan bahwa masyarakat menerima dan merasa mendapat ‘tamu kehormatan’ yakni berupa kegiatan PNPM MPd ini sehingga tujuan kegiatan PNPM yang dari untuk dan oleh masyarakat ini dapat di terima oleh masyarakat.
![]() |
| Bupati Bangka Barat (Zuhri M.Syazali, bertopi) berdialog dengan warga |
Dengan adanya kegiatan yang tidak terlalu formal ini, menurut saya malah memberikan rasa yang berbeda dengan kegiatan MDST yang pernah saya ikuti di desa lain di kecamatan sekarang saya bertugas atau di kecamatan lain. Suasana yang nyaman di bawah tiupan angin sepoi-sepoi diantara batang karet, tak mengurangi minat dan antusias masyarakat bermusyawarah untuk menyampaikan aspirasi dan membahas agenda pertemuan MDST ini. Acara berlangsung santai, tetapi inti acara dari MDST dapat tercapai. Walaupun dalam pertemuan tersebut hadir orang nomor satu di Bangka Barat, akan tetapi warga tidak merasa canggung dalam menyampaikan pendapatnya. Bupati pun memberikan apreasiasi yang positif terhadap kegiatan tersebut. Sebagai orang nomor satu di Kabupaten Bangka Barat, tidak hanya diberikan waktu untuk meresmikan kegiatan, tetapi juga ikut bermusyawarah dari awal sampai akhir acara.
![]() |
| Bupati berdiskusi usai makan bersama dengan warga |
Dengan demikian diharapkan dengan penyatuan suatu adat istiadat yang berlaku dalam suatu masyarakat dengan kegiatan PNPM MPd. dapat menjadikan kegiatan PNPM MPd. ini lebih dirasakan pengaruhnya oleh masyarakat. Masyarakat pun merasa memiliki atas semua kegiatan yang telah mereka laksanakan, sehingga pelestarian hasil-hasil kegiatan PNPM MPd. dapat mereka lakukan.
(Mimalin Titah, Fasilitator Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat)


