PERTAMA KALI mendengar kata itu, saya berpikir seperti budaya gotong royong yang dilakukan oleh para anggota masyarakat yang ada di desa-desa di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Akan tetapi, ternyata perkiraan saya itu salah. Tradisi Nganggung ini merupakan kegiatan silaturahmi dalam rangka peringatan hari raya agama Islam atau menyambut tamu-tamu yang dihormati masyarakat.
Dalam acara tersebut, semua keluarga di suatu desa menyediakan makanan untuk dibawa ke masjid atau balai pertemuan yang akan disantap bersama-sama. Makanan-makanan yang dibawa biasanya ditempatkan dalam suatu wadah yang disebut Dulang, yang ditutup dengan tudung saji sedemikian rupa. Makanan-makanan tersebut dibawa dengan cara di‘anggung” yang artinya dipapah di bahu. Mungkin karena cara membawa inilah yang membuat namanya menjadi ‘nganggung.’ Walaupun sekarang ini cara membawa hidangan ini sudah beralih ke rantang. Akan tetapi, nama ‘Nganggung” masih tetap digunakan orang sampai saat ini.
Budaya ini menurut saya sangatlah bagus dan perlu dilestarikan, karena tidak semua daerah di nusantara memiliki budaya seperti ini. Esensi dari budaya ini juga sangatlah menarik,
Ketua TPK Mancung, Karman, sedang sampaikan sambutan disaksikan Bupati
karena bisa menciptakan kerukunan, kebersamaan dan sikap saling menghormati antaranggota masyarakat. Dengan makan bersama dengan aneka hidangan yang beragam jenis dan beraneka rasa bisa membuat suasana yang kondusif untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan lingkungan tempat tinggal mereka atau pun permasalahan yang timbul dalam masyarakat dengan suasana yang santai dan penuh kekeluargaan.
Kegiatan PNPM MPd. di Kabupaten Bangka Barat beberapa kali telah dapat ‘beritegrasi’ dengan budaya Nganggung ini. Hal itu menurut saya merupakan hal yang positif, karena dengan adanya kegiatan lokal yang juga merupakan salah satu kearifan lokal dan dapat bersinergi dengan kegiatan PNPM MPd membuktikan bahwa masyarakat menerima dan merasa mendapat ‘tamu kehormatan’ yakni berupa kegiatan PNPM MPd ini sehingga tujuan kegiatan PNPM yang dari untuk dan oleh masyarakat ini dapat diterima oleh masyarakat.
Salah satu contoh kegiatan PNPM yang bisa bersinergi dengan adat Nganggung ini adalah kegiatan MDST seperti yang pernah dilakukan di Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, pada 15 Februari 2014 lalu. MDST ini dilaksanakan bukan di Balai Pertemuan ataupun di Masjid. Akan tetapi, dilaksanakan di tengah
Bupati (bertopi, baju batik) sedang Bincang-bincang Santai Sebelum Pelaksanaan MDST
hutan karet yang dekat dengan lokasi pembuatan jalan tanah puru dan jembatan. Pada acara yang tidak terlalu formal yang dihadiri PjOK, kepala desa, pengurus TPK, pengurus UPK, Spesialis KIE, para ibu dan tokoh masyarakat tersebut, turut hadir Bupati Bangka Barat Zuhri M.Syazali, yang datang ke lokasi tanpa protokoler resmi atau pengawalan resmi sebagaimana biasa seorang bupati menghadiri acara.
Dengan adanya kegiatan yang tidak terlalu formal ini, menurut saya malah memberikan rasa yang berbeda dengan kegiatan MDST yang pernah saya ikuti di desa lain di kecamatan sekarang saya bertugas atau di kecamatan lain. Suasana yang nyaman di bawah tiupan angin sepoi-
FK P (Mimalin Titah, pakai rompi coklat) sedang Bincang-bincang dengan Bupati Usai MDST
sepoi diantara batang karet, tak mengurangi minat dan antusias masyarakat bermusyawarah untuk menyampaikan aspirasi dan membahas agenda pertemuan MDST ini. Acara berlangsung santai, tetapi inti acara dari MDST dapat tercapai. Walaupun dalam pertemuan tersebut hadir orang nomor satu di Bangka Barat, akan tetapi warga tidak merasa canggung dalam menyampaikan pendapatnya. Bupati pun memberikan apreasiasi yang positif terhadap kegiatan tersebut. Sebagai orang nomor satu di Kabupaten Bangka Barat, tidak hanya diberikan waktu untuk meresmikan kegiatan, tetapi juga ikut bermusyawarah dari awal sampai akhir acara.
Walaupun dengan suasana yang berbeda dengan pada saat Nganggung yang biasa mereka lakukan di desa, akan tetapi ngangung yang telah dimodifikasi sedimikian rupa sehingga ini tetap masih bisa dirasakan esensinya yakni kebersamaan, gotong royong dan rasa saling menghormati yang akhirnya dapat menimbulkan rasa memiliki atas apa yang telah dikerjakan bersama-sama. Dengan demikian diharapkan dengan penyatuan suatu adat istiadat yang berlaku dalam suatu masyarakat dengan kegiatan PNPM MPd. dapat menjadikan kegiatan PNPM MPd. ini lebih dirasakan pengaruhnya oleh masyarakat. Masyarakat pun merasa memiliki atas semua kegiatan yang telah mereka laksanakan, sehingga pelestarian hasil-hasil kegiatan PNPM MPd. dapat mereka lakukan.
(Mimalin Titah, Fasilitator Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat)





